Thursday, October 13, 2011

ASI = Aman Sehat Irit!*


Mengubah kebiasaan yang buruk atau cara berpikir yang salah itu tidaklah mudah, kalo minjem kata-katanya pak dokter @bramirfanda “bagaikan melepaskan kacang dari genggaman tangan kera”. Sama halnya dengan mengubah kebiasaan ibu-ibu modern sekarang ini, mereka lebih memilih memberi bayinya susu formula dengan berbagai alasan, salah satunya karena kesibukan bekerja. Padahal dari berbagai penelitian telah menemukan fakta bahwa kandungan yang terdapat dalam ASI tidak akan pernah bisa digantikan dengan susu formula sebagus dan semahal apapun! Lha wong ASI itu diciptakan langsung oleh Sang Maha Mencipta Allah SWT, kok ya mau dibandingkan dengan susu formula bikinan manusia yang dhaif. :D

Mengapa tiba-tiba saya sebagai laki-laki membahas masalah ASI, tak lain tak bukan karena saat ini saya sedang menunggu kehadiran si buah hati yang saat ini masih berada di dalam kandungan bundanya yang berumur 8 bulan. Demi mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik, semangat untuk belajar serta mencari informasi yang benar tumbuh dengan sendirinya. Mungkin memang sudah kodratnya demikian, naluri itu tumbuh seiring dengan perubahan peran yang akan saya jalani, dari seorang suami menjadi suami sekaligus ayah.

Sungguh, menanti kehadiran anak pertama memberi sensasi serta kenikmatan tersendiri dalam diri kami. Ada antusiasme yang sangat tinggi yang kami rasakan, bukan hanya saya, istri saya pun demikian. Demi mempersiapkan diri menjadi orang tua yang baik, istri saya pun giat mempelajari bagaimana cara mengurus bayi yang baik. Salah satunya adalah dengan mengikuti seminar tentang ASI yang dilaksanakan di RS. Puri Cinere, tempat kami biasa memeriksakan kandungan. Di rumah sakit tersebut setiap hari sabtu pagi selalu diadakan kelas senam hamil dan kelas laktasi. Pada suatu kesempatan seminar yang diikuti oleh istri saya, dokter spesialis laktasi yang menjadi pembicara menyampaikan pentingnya ASI bagi pertumbuhan bayi serta emosional sang ibu. Dokter tersebut malah sangat antipati dengan susu formula, beliau mengatakan bahwa zat kimia yang terkandung dalam susu formula tidak sepenuhnya bagus untuk sang bayi. Alih-alih menambah gizi bagi sang bayi, kalo ternyata kandungannya tidak sesuai dengan kondisi bayi malah justru bisa membahayakan si bayi.

Hal senada juga pernah saya baca dalam sebuah artikel blog milik PAUD Pelangi Nusa. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa susu setiap jenis mamalia berbeda dan bersifat spesifik untuk tiap spesies, yaitu disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan serta kebiasaan menyusui.Bayi manusia akan mencapai 2 kali berat lahirnya dalam waktu sekitar 6 bulan, sedangkan anak sapi hanya memerlukan waktu 6 minggu, sehingga dapat dimengerti bahwa komposisi ASI dan susu sapi pastilah berbeda. ASI seorang ibu bisa berbeda dengan ASI ibu yang lain. Jika ASI tiap ibu saja berbeda, maka bagaimana bisa ASI manusia sama dengan ASI hewan? **
Itulah mengapa bayi yang diberi ASI akan lebih sehat dibanding bayi yang diberi susu sapi maupun susu formula.

Terdapat banyak keajaiban dari ASI salah satunya adalah ASI selalu memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sesuai dengan kebutuhannya dan sangat spesifik, hal mana yang tidak dapat digantikan oleh susu formula. Mengapa? Karena susu formula membutuhkan media air untuk mengencerkannya, apabila terlalu cair maka si bayi bisa saja kekurangan gizi, dan apabila terlalu pekat si bayi bisa mengalami obesitas. Kedua-duanya tentu saja tidak baik untuk si bayi. Selain itu ada beberapa zat maupun nutrisi yang tidak bisa digantikan oleh susu formula, yang mana zat tersebut mutlak ada dalam ASI. Kalau si bayi tidak mendapatkan ASI lalu darimana lagi ia mendapatkan zat dan nutrisi tersebut.

Saya termasuk orang yang awam dengan dunia medis, jadi saya tidak bisa menuliskan kandungan-kandungan nutrisi dalam ASI dengan bahasa tersebut. Jika ada pembaca yang berminat untuk mengetahuinya secara detil silakan klik disini. Artikel dari PAUD Pelangi Nusa, dalam artikel tersebut dijelaskan secara detil tentang keutamaan dan keajaiban ASI.

Selanjutnya mengenai masalah berapa lama sebaiknya ASI diberikan pada bayi. Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa minimal pemberian ASI ekslusif pada bayi adalah 6 bulan, setelah 6 bulan boleh diberikan makanan pendamping. Dari penelitian yang lain memberikan kesimpulan bahwa semakin lama si bayi diberi ASI maka tingkat imunitas serta kecerdasannya makin tinggi. Lalu bagaimana menurut ajaran Islam? Allah SWT dalam Al- Quran surah Al Baqarah ayat 233 telah memberikan penjelasan secara gamblang. Berikut terjemahannya :

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS 2:233)

Dari ayat diatas kita bisa simpulkan bahwa untuk kesempurnaan menyusui hendaklah diberikan selama 2 tahun. Akan tetapi dewasa ini banyak kaum ibu justru memilih untuk tidak menyusui anaknya, ada yang beralasan karena ASI nya tidak keluar, hal mana yang justru dibantah oleh beberapa dokter spesialis laktasi. Menurut para dokter tersebut Allah telah memberikan anugerah ASI bagi setiap ibu yang melahirkan, jikalau ada ibu yang mengklaim tidak keluar ASI itu lebih dikarenakan kesalahan awal pada penanganan bayi, maupun faktor psikologis sang ibu. Secara alami ketika bayi dilahirkan si bayi langsung mencari ibunya, akan tetapi naluri si bayi ini justru terkadang dipatahkan oleh pihak luar (perawat, bidan atau dokter kandungan) yang hendak membersihkan bayi yang secara tidak langsung memisahkannya dari ibunya, oleh karena itu sekarang telah timbul kesadaran di beberapa rumah sakit akan pentingnya Inisiasi Menyusui Dini, dimana ketika bayi baru dilahirkan langsung diberikan kepada ibunya untuk menyusu.
Sebagian yang lain beralasan sibuk dengan pekerjaan, padahal ada banyak cara yang bisa ditempuh agar ibu pekerja masih bisa menyusui anaknya. Salah satunya adalah melalui kurir ASI, terutama di kota-kota besar.
 Untuk masalah ini kebijakan di Negara kita memang tertinggal jauh dengan beberapa Negara maju, di Jerman, Jepang dan beberapa Negara maju yang lain pemerintahnya menetapkan cuti selama satu tahun bagi kaum ibu yang sedang menyusui. Kebetulan saya punya seorang teman yang pernah tinggal lama di Jepang, teman saya ini pun mengatakan bahwa di Jepang bagi ibu yang bekerja dan sedang menyusui mendapat jatah cuti selama satu tahun. Semoga nanti kedepannya pemerintah kita juga bisa memberikan kebijakan yang serupa, karena memberikan ASI sangatlah penting bagi kemajuan sumber daya manusia kita. Selain itu bisa memangkas pengeluaran masyarakat untuk membeli susu formula, yang mana bisa menghemat devisa Negara.

Kembali ke ayat diatas, sungguh Islam itu memang agama yang sempurna. Dalam ayat tersebut juga memuat pandangan Islam dalam menyikapi kelahiran si bayi terkait masalah ekonomi. Seperti kita ketahui bersama harga susu formula itu terhitung mahal, bahkan sangat mahal bagi masyarakat ekonomi bawah. Lalu mengapa kita bersusah payah mengeluarkan uang kita untuk sesuatu yang belum tentu baik bagi bayi kita, sementara Allah telah memberikannya secara gratis dan jelas pasti bermanfaat!?
Telah jelas pula disebutkan dalam ayat tersebut “Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya”, namun terkadang karena gengsi dengan tetangga atau saudara kita memaksakan diri untuk memberikan sesuatu yang mahal padahal belum tentu baik bagi bayi kita. “Seseorang tidak dibebani melainkan kadar kesanggupannya.” Jika kita mengikuti aturan Allah tersebut tentu saja kita tidak lagi dipusingkan dengan biaya membeli susu formula yang mahal tersebut. Dengan ASI eksklusif, pengeluaran untuk susu formula bisa kita alihkan untuk biaya yang lain yang jauh lebih bermanfaat. Benar adanya ASI itu Aman, Sehat dan Irit!

*mengutip istilah dari mbak Mia Sutanto dalam artikel di blognya.


Artikel terkait dari blog lain :

Catatan Kecil Terkait Draft RPP Pemberian ASI (Update 9 Nov 2010 )

Wednesday, October 12, 2011

One Year After


10-10-11, tepat setahun sudah kami hidup berdua dalam satu ikatan pernikahan. Berbagai suka dan duka telah kami lewati selama setahun ini. Ada berbagai pelajaran yang kami petik, ada harapan yang mulai tumbuh, ada cita-cita yang coba kami rakit. Hidup bersama itu memang tak mudah, tapi akan selalu penuh dengan hal baru.

Setahun yang lalu kami melangsungkan pernikahan, 10-10-10, perfect ten, kami memilih tanggal tersebut dengan harapan pernikahan kami membawa berkah kesempurnaan menjadi manusia yang utuh, sesuai dengan sunnah junjungan kami Rasulullah SAW. Tidak ada sesuatu yang sakral maupun magis dari tanggal tersebut, hanya keunikannya saja yang membuat kami memilih tanggal tersebut, selain kebetulan memang tanggal tersebut jatuh pada hari minggu, setidaknya memudahkan para tamu undangan.

Ya, perjalanan rumah tangga kami memang tak semulus apa yang ada di bayangan kami dulu. Pertengkaran demi pertengkaran pasti terjadi, lumrah adanya, justru kami anggap sebagai proses untuk menambah tingkat kedewasaan kami berdua, itu semua sebagai suatu keniscayaan dalam kehidupan berumah tangga. Tiada kami lelah, lalu memilih untuk berpisah. Tiada kami lelah untuk berusaha menyatukan perbedaan.

Bagaimanapun juga menikah adalah suatu keputusan yang kita ambil dengan penuh kesadaran, sadar akan resikonya, sadar akan hambatannya, sadar akan perbedaan, kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menikah bukan sekedar masalah mengubah dua insane menjadi sama persis. Bukan sekedar cumbu rayu atau tertawa ria, menikah adalah menyatukan dua insan yang berbeda hingga membentuk suatu wujud yang baru. Dalam bahasa filsuf modern, ‘become one but yet still remain two’.

Apa yang kami pelajari selama setahun ini bahwa menikah itu penuh dengan kompromi, kesabaran, ketidakegoisan, keuletan, mau mengalah dan rasa saling percaya. Kompromi dalam artian kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada pasangan. Kesabaran dalam menerima perbedaan serta kekurangan pasangan kita, tidak egois menuntut pasangan kita sesuai kemauan kita, ulet dalam mempertahankan biduk rumah tangga agar tetap di jalurnya, mau mengalah ketika pertengkaran seolah tidak berujung, serta rasa saling percaya bahwa pasangan kita adalah yang terbaik untuk kita serta dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi kita.

Terkadang dulu kita selalu berusaha mencari pasangan yang memiliki berbagai kesamaan dengan kita, entah itu hobi, cara pandang maupun sifat. Tapi terkadang jodoh kita malah seseorang yang memiliki sifat, hobi maupun cara pandang yang sangat bertolak belakang dengan kita. Tapi percayalah disitulah letak keindahannya, selalu memunculkan hal-hal baru yang bisa kita pelajari. Kami adalah pasangan dengan sifat, karakter, hobi maupun cara pandang yang sangat bertolak belakang. Saya lebih suka menyendiri, istri saya lebih suka bercengkerama dengan sahabatnya. Saya terlalu peduli dengan isu sosial kemasyarakatan istri saya kurang begitu peduli, saya pemimpi istri saya sangat realistis dan masih banyak lagi perbedaan-perbedaan itu. Namun dari segala perbedaan itu, akhirnya kami menyadari bahwa menikah itu tidak melulu tentang ‘saya’. Ada berbagai hal yang perlu kita kompromikan, toleransikan.

Setahun sudah kami mengarungi biduk rumah tangga ini, masih seumur jagung memang. Tapi begitu banyak pelajaran yang telah kita petik dan kami yakin masih ada banyak sekali tantangan serta pelajaran di tahun-tahun mendatang. Alhamdulillah saat ini kami sedang menunggu kehadiran putra pertama kami, yang saat ini masih dalam kandungan istri saya dan berumur 33 minggu. Pelajaran pertama yang akan kami pelajari memasuki tahun ke-dua pernikahan ini adalah menjadi orang tua.

Sungguh, menikah membawa kebahagiaan tersendiri. Beruntunglah kita yang telah menemukan jodoh kita. Mari kita syukuri anugerah dari Allah SWT ini, dengan selalu bersyukur kepada-Nya. Terimakasih Ya Allah, sungguh tiada pujian terindah selain kepada-Mu Ya Allah. Mohon bimbinglah kami untuk mewujudkan keluarga yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah Ya Allah. Jangan condongkan hati kami untuk lepas dari bimbinganMu Ya Rabbi.

Kepada istriku tercinta, Fithriyah, mari kita satukan hati dan niat untuk terus menjaga ikatan rumah tangga ini agar tetap selalu dalam bimbingan Allah SWT. Kita jadikan hari ini sebagai refleksi serta berbenah diri untuk meraih masa depan yang bahagia. Amin.

Thursday, October 6, 2011

Puskesmas oh puskesmas!


Entah judul apa yang baik untuk tulisan ini, saya sendiri juga bingung. Hanya saja keinginan untuk menuliskan kejadian yang saya dan istri saya alami beberapa hari yang lalu begitu kuat mendorong saya untuk menuliskannya sekarang.

Pernah saya dengar ada buku berjudul “Orang Miskin dilarang Sakit”, namun sampai hari ini pun saya belum pernah membacanya. Memang, dulu saya sedikit bersikap apriori terhadap buku-buku yang judulnya sedikit provokatif seperti ini. Dulu saya berpendapat bahwa buku-buku seperti ini selalu disusupi gagasan-gagasan kiri, selalu mengatasnamakan masyarakat yang dimarjinalkan. Dan jujur saja, dulu saya tidak begitu respek terhadap gagasan-gagasan tersebut. Pandangan saya waktu itu, sebagaimana mana kita ketahui bahwa Negara ini telah bobrok, mengalami kemunduran, dan kehilangan arah, tak perlulah kita mengungkit-ungkit masalah kebobrokan hanya untuk menyadarkan pemerintah, dalam hemat saya, percuma! Toh mereka yang berdiri di pemerintahan juga belum tentu mau mendengar, saya tegaskan lagi, mau mendengar bukan tidak mendengar.


Menurut saya untuk membangun dan menyadarkan pemerintah yang perlu kita lakukan adalah membawa kabar gembira pada masyarakat, melalui buku-buku yang memotivasi kita untuk lebih maju, lebih mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah. Masyarakat kita sudah banyak yang susah, kalo kita jejali dengan bacaan-bacaan yang memang mengisyaratkan bahwa mereka susah, bisa-bisa mereka malah tambah susah! Saya selalu berpandangan melawan hal buruk akan lebih baik jika kita menggunakan hal baik, dengan sesuatu yang positif, bukan malah provokasi untuk menebar kebencian. Bangunlah kualitas diri kita sendiri sehingga orang lain akan malu berbuat buruk kepada kita, begitu pula prinsip saya jika menyangkut pemerintah. Integritas diri  kita yang menentukan masa depan kita, dengan atau tanpa dukungan pemerintah.
Baiklah, cukup sudah ngelanturnya kita kembali ke pokok permasalahan yang hendak saya tulis. Terlepas dari pandangan saya di atas, akhirnya saya mengamini juga judul buku “Orang Miskin dilarang Sakit” tersebut. Ini terkait dengan pengalaman tidak mengenakkan yang saya terima di salah satu Puskesmas di daerah Kayu Putih, Jakarta Timur.

Bermula dari istri saya yang tengah hamil 8 bulan, tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Berhubung waktu itu kami sedang tinggal di rumah orang tua di daerah Kayu Putih  tersebut, sementara dokter langganan kami di Cinere, jadi mau ga mau kami mencari bidan terdekat. Ternyata bidan terdekat baru buka praktek sore hari, tidak ada pilihan lain selain puskesmas, kenapa kami tidak ke rumah sakit terdekat? Karena saya yakin bahwa saat itu memang belum waktunya melahirkan, saya hanya ingin memastikan saja ke bidan supaya istri tidak khawatir.

Di puskesmas itulah pengalaman tidak mengenakkan tersebut terjadi. Saat kami hendak mendaftar, kami disambut tatapan yang tidak ramah dari petugas pendaftaran, seorang wanita setengah baya. Dengan tampang yang cenderung menyepelekan kami, dia pun bertanya dengan nada ketus “Ada perlu apa!??” Tentu saja kami terkejut, tapi kami masih bisa menahan diri dan menjelaskan keperluan kami. Sungguh sangat kontras ketika saya periksa ke Rumah Sakit swasta, pertanyaan yang mereka ucapkan biasanya “Ada yang bisa saya bantu?”. Inti dari pertanyaannya sama, tapi rasa bahasanya jauh berbeda. Lanjut ke cerita tadi, setelah kami menjelaskan keperluan kami ‘beliau’ langsung ngeloyor pergi ke belakang tanpa memberi  jawaban sama sekali! Kami hanya bisa bersabar dan menunggu, tak berapa lama ‘beliau’ datang lagi, dan lagi-lagi bertanya dengan nada yang tidak sopan “Jadi ibu mau periksa atau mau apa!?” kami jawab “Mau periksa, bu”. Begitu mendengar jawaban kami ‘beliau’ Cuma jawab, “Tunggu ya!”, setelah itu ‘beliau’ kembali pergi ke belakang tanpa memberi jawaban maupun penjelasan kepada kami apa yang harus kami tunggu. Apakah kami harus menunggu bidan karena bidan sedang tidak ada di tempat? Ataukah kami harus menunggu karena saat itu sedang waktu istirahat? Kami benar-benar tidak tahu. Dan yang membuat kami begitu kesal ternyata ‘beliau’ malah asyik ngobrol di ruangan belakang. Diperlakukan seperti ini jelas kesabaran kami habis, kami juga melihat ada beberapa pasien di ruang tunggu yang tampak gelisah, tapi mereka pasrah. Sedang kami tidak! Apalagi setelah saya dengar cerita dari istri saya, bahwa di puskesmas tersebut memang demikian adatnya. Istri saya bercerita dulu ketika dia masih sekolah, setiap kali dia datang ke puskesmas tersebut, pelayanan seperti itulah yang ia dapatkan. Berbeda pelayanannya ketika istri saya datang ke puskesmas tersebut dengan ibunya yang notabene kepala sekolah di daerah tersebut. Istri saya juga bercerita bahwa mereka menjadi sangat ramah jika pasien tersebut memakai seragam pegawai negeri. Jika pasiennya orang biasa mereka bertindak semena-mena. Sungguh ironis!! Namanya  juga Pusat Kesehatan Masyarakat, tapi ketika masyarakat yang berobat diperlakukan seenaknya!!

Setelah mendengar cerita istri tersebut, saya langsung ajak istri saya untuk keluar, mencari klinik terdekat. Bukan masalah biaya saya ke puskesmas, masalah jarak saja sebenarnya. Ketika kami hendak pulang, ada salah satu petugas yang coba menahan kami. Tapi kami merasa sudah sangat dikecewakan, dengan nada keras saya bilang ke petugas itu bahwa tak seharusnya pasien diperlakukan seperti itu, puskesmas adalah pelayanan publik, harus bersikap ramah tanpa pandang bulu, bukan malah pasien ditelantarkan hanya untuk mengobrol. Dia terlihat cukup malu dan tetap bersikeras agar kami menunggu, saya jelaskan lagi apa yang harus saya tunggu, tidak ada satupun antrian ke bidan, hanya kami! Kami harus menunggu petugas tersebut selesai ngobrol hanya untuk sekedar diperiksa bidan!!? Semoga Allah menyadarkan mereka dan kita selalu diberi ketabahan. Semoga Allah memaafkan kekhilafan kita. Amin.

Beruntung saya mendapat Asuransi dari perusahaan saya, tanpa sistem reimburst serta manfaat yang lebih dari cukup, jadi saya tidak terlalu khawatir ketika hendak berobat ke Rumah Sakit. Selama ini saya selalu berobat ke rumah sakit, baru kali itu saya berobat ke puskesmas. Lalu bagaimana nasib jutaan rakyat kita yang tidak beruntung memiliki asuransi ? Atau mereka yang tidak berprofesi sebagai karyawan?
Sungguh saya sangat kecewa terhadap pelayanan publik di Negara yang saya cintai ini, bukan sekali dua kali saya mengalami hal seperti ini. Hampir di setiap instansi pemerintahan saya selalu mengalami hal serupa. Akhirnya saya pun mengamini judul buku “Orang Miskin dilarang Sakit”.

Saturday, August 27, 2011

Think Dinar! Buku yang Mencerdaskan

Think Dinar! buku karya Endy J Kurniawan ini mampu merubah pandangan saya tentang investasi. Selama ini investasi yang saya ketahui hanyalah Saham, ORI, Reksadana dan Asuransi, yang mana tidak ada satupun yang saya minati maupun saya ikuti. Mungkin ada sebagian yang bilang properti juga masuk dalam investasi, tapi berhubung tabungan saya hanya cukup untuk DP rumah KPR jadi saya belum bisa berinvestasi properti :D. Menabung di bank, hanya itulah satu-satunya kegiatan berinvestasi yang saya lakukan, terperngaruh bunyi salah satu iklan " bang bing bung yok kita nabung, tang ting tung heii jangan dihitung, tau-tau kita nanti dapet untung.". 
Tetapi setelah membaca buku ini, porak porandalah sudah impian saya mengenai dapat untung dari menabung tersebut. Secara lugas dan logis buku ini menjelaskan bahwa menabung di bank saat ini tidaklah menguntungkan seperti yang dijanjikan, justru kita malah mengalami kerugian. Lho kok bisa? beliau menjelaskan bahwa bunga bank selalu kalah dengan tingkat inflasi ditambah biaya administrasi yang dibebankan oleh bank juga ikut mengurangi tabungan kita. Solusi yang ia tawarkan adalah dengan menabung Dinar. 
Dalam buku ini beliau menjelaskan secara gamblang bagaimana emas tidak terpengaruh oleh inflasi, selalu mampu mempertahankan nilainya. Karena emas memang diciptakan untuk langka tapi selalu ada, memang sudah sunatullah nya seperti itu. Nilai 1 dinar emas dari masa Rasulullah sampai dengan saat ini akan tetap sama, malah bisa jadi malah naik. Buku ini tidak ditulis dengan sembarangan atau hanya berdasar 'katanya', buku ini juga menyajikan data-data empiris mengenai kestabilan emas tersebut. Sejarah perkembangan hingga perubahan cara pandang masyarakat dunia terhadap emas.
Bagian paling menarik perhatian saya dalam buku ini adalah ketika penulis menelanjangi kebobrokan ekonomi kapitalis saat ini, bagaimana rapuhnya bangunan ekonomi yang sedang kita jalani saat ini. Uang kertas yang ternyata tidak menjamin masa depan kita bahkan sangat-sangat rapuh. Penjabaran-penjabaran beliau yang lugas serta didukung data dan fakta yang akurat telah berhasil merubah mindset saya terhadap sistem ekonomi. Dalam tingkat yang ekstrim malah, tanpa pikir panjang akhirnya saya menarik tabungan saya di bank dan membeli dinar maupun LM. Tidak banyak memang tabungan saya, tapi setidaknya mengamankan nilainya terlebih dahulu sebelum tergerus inflasi :D.

Penasaran kan dengan isi buku ini? Anda bisa mendapatkannya di Gramedia maupun toko-toko buku lainnya. Anda juga bisa follow twitter pak endy di @endykurniawan. Mari kita menabung dinar!!


Tuesday, June 14, 2011

Bantu Indonesia

Satu lagi gerakan kesadaran terhadap nasib bangsa ini tumbuh melalui internet, siapa penggagasnya saya sendiri belum sempat mencarinya. Tapi ide awal dari gerakan ini pasti muncul dari seorang yang punya keikhlasan hati yang luar biasa. Di saat para pemimpin bangsa ini sibuk dengan dirinya masing-masing, sibuk membangun citra partainya dan sibuk memperkaya dan memfasilitasi dirinya sendiri, ternyata masih ada orang-orang yang berani melakukan perubahan bagi bangsa ini. Saya sangat salut dengan orang-orang seperti ini. Sebelumnya di twitter juga ada gerakan #SSC –Save Street Child- , dulu pernah ada gerakan Jangan Bugil di Depan Kamera dan banyak lagi gerakan-gerakan sosial dan kemanusiaan yang lahir dari komunitas dunia maya.

Gerakan swakarsa dan swadaya masyarakat yang marak muncul belakangan ini seharusnya bisa kita jadikan sebagai indikator buruknya peran pemerintah dalam menangani kesejahteraan rakyatnya.  Padahal UUD  45 telah mengatur bagaimana kesejahteraan masyarakat itu merupakan tanggung jawab pemerintah. Tapi ya beginilah negeri ini, selalu saja berjalan di tempat tanpa ada kemajuan yang berarti.

Satu hal yang perlu kita syukuri dengan maraknya kemunculan gerakan-gerakan seperti ini, setidaknya kesadaran masyarakat akan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan di negeri ini kian meningkat. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat bersatu-padu membangun bangsa ini, jangan terjebak dalam putaran konflik antar elit politik, biarkan mereka ribut dengan urusan partainya, kita sebagai masyarakat Indonesia tak perlu ikut-ikutan sandiwara politik yang tak jelas juntrungannya. Mari kita hidupkan kembali semangat gotong royong, rasa nasionalisme, serta mempererat ukhuwah. Semoga bangsa ini masih bisa diselamatkan. Amin Ya Allah!!

Bagi Anda yang ingin mendukung gerakan ini, Anda bisa berkunjung ke situs resminya di Bantu Indonesia
 
Daydream. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.